Peer-To-Peer (P2P) Economy

Peer-To-Peer (P2P) Economy

Seri BMT 4.0 dan UMKM 4.0 – Re-inventing Gerakan Lembaga Keuangan Mikro dan Usaha Mikro Kecil Menengah

Kapitalisme Adam Smith, berhasil dikalahkan bukan oleh kaum marxis, bukan oleh kaum sosialis. Tapi, oleh netizen. –Maman–.

Kapitalisme vs Sosialisme

Terlepas dari ‘ajaran asli’ Adam Smith terkait kapitalisme, sepanjang perjalanan sejarah menjelang dan awal abad 20, peradaban dunia disibukkan oleh perseteruan, permusuhan dan peperangan yang diakibatkan oleh kemarahan dan perlawanan yang dilakukan oleh para kaum proletar, kaum sosialis terhadap kaum pemodal, kaum kapitalis. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum anti-kapitalis ini, tidak hanya terjadi di tataran konsep, pemikiran, tulisan; tapi mewujud dalam peperangan fisik di mana-mana. Keributan dan peperangan yang berdarah-darah dan mengorbankan puluhan bahkan mungkin ratusan juta nyawa manusia. Sekian tahun berlalu, teriakan-teriakan para pejuang anti-kapitalis ini, semakin lama semakin melemah. Raungan mesin-mesin produksi milik para pemodal raksasa, deru mobil, kendaraan dan alat-alat pertambangan milik para pemodal global, dan teriakan-teriakan para trader di bursa saham, sebaliknya, semakin nyaring terdengar. Para pewaris dan pengemban amanat gerakan sosialisme yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam peperangan brutal sebelumnya (Cina, Vietnam, Rusia ex Uni Soviet), sekarang sudah tidak bisa lagi dibedakan dengan wajah dan perilaku para musuh besarnya dahulu. Orang-orang kaya di Cina, adalah para penguasa dan pemilik modal. Para pemilik uang global, berlomba-lomba meng-investasikan modalnya di negeri-negeri sosialis: Cina, Vietnam…. Kesimpulannya: pertempuran dan peperangan berdarah antara kapitalisme dan sosialisme, pemenangnya adalah: kapitalisme.

Kapitalisme vs Sharing Economy

Saat peperangan kedua madzhab ekonomi tersebut sudah memasuki status quo, yang secara de facto menetapkan kapitalisme sebagai pemenangnya, dunia ekonomi disuguhkan oleh munculnya fenomena baru, yang muncul dari dunia yang tidak diduga: teknologi informasi, teknologi digital . Fenomena yang awalnya masih samar, perlahan tapi pasti makin menguat dan menjadi kehebohan baru. Fenomena Sharing Economy. Model bisnis baru, yang muncul dari kreativitas tanpa batas dan ‘kenakalan’ para netizen. Yang keluar dari orang-orang yang sebagian besar waktunya di habiskan di depan layar komputer dan smartphone.

Model bisnis sharing economy membuat pusing para kaum pemodal (kapitalis). Prinsip ekonomi berbagi, yang sudah menyertai manusia sejak ribuan tahun bahkan sejak keberadaan manusia itu sendiri, tiba-tiba hadir menawarkan alternatif baru untuk menjalankan usaha. Para pekerja, tiba-tiba menjadi mitra bisnis, menjadi para pengusaha mandiri. Tidak lagi terikat berbagai aturan jam kerja, cuti, lembur. Bermodalkan satu rumah, bahkan satu kamar, siapapun bisa membuka usaha layanan hotel. Bermodalkan satu sepeda motor, satu mobil, siapapun bisa menjalankan usaha transportasi. Bermodalkan uang ratusan ribu atau jutaan, bisa menjalankan usaha peminjaman uang. Tidak perlu lagi modal bermilyar-milyar untuk investasi perkantoran, karyawan, mesin produksi (bangunan hotel, armada taxi). Berbagai bisnis baru bermunculan dengan model sharing economy.

Prinsip berbagi keuntungan, berbagi resiko, berbagi sumberdaya, tiba-tiba menjadi mantera yang menggairahkan bagi kaum anti-kapitalis, sekaligus menggelisahkan kaum kapitalis. Kekuatan modal, tidak lagi bisa mengendalikan. Kekuasaan untuk mengendalikan adalah kenikmatan utama para kaum kapitalis (keberlimpahan harta, bukan tujuan akhir dan tidak akan pernah menghentikan dan mengubah kaum kapitalis. Kekuasaan mengendalikan adalah kenikmatan utamanya). Tentu saja, mereka tidak tinggal diam. Mereka harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan kemewahan dan kenikmatan yang selama ini mereka miliki. AT ALL COST. Tidak peduli, seberapa besar modal yang dibutuhkan. Dan, lagi-lagi, dengan piawai, mereka bisa segera bisa mengendalikan dan mengembalikan situasi. Ratusan bahkan ribuan triliunan rupiah di gelontorkan untuk ‘mengendalikan situasi’. Mereka melakukan akuisisi secara massive, agresif dan tampak seperti tidak masuk akal. Mereka ambil alih dan kuasai semua platform usaha yang ber-basis sharing economy. Masalahnya, bukan seberapa besar bisnis ‘konvensional‘ mereka di-gerogoti oleh bisnis-bisnis sharing economy (harta mereka masih berlimpah), tapi, kekuasaan pengendalian, kenikmatan mengendalikan yang hilang, ini adalah masalah besar mereka. Seperti kesetanan, mereka berlomba-lomba meng-akusisi perusahaan-perusahaan yang berbau sharing economy ini, agar mereka tetap bisa mengendalikan.

Hari ini, kita melihat, para kapitalis, sudah berhasil kembali mengendalikan situasi. Para kapitalis, kembali menjadi pengendali. Para pengusaha mandiri, para mitra bisnis mandiri, kembali menjadi pihak yang di-kendali-kan. Para driver online, para UMKM pemilik properti, UMKM mitra marketplace, kembali menjadi pihak yang harus patuh kepada para penguasa platform, yang dimiliki oleh para pemilik modal…. Kesimpulannya: pertempuran dan peperangan antara kapitalisme dan sharing economy, pemenangnya adalah: kapitalisme.

Peer-to-Peer dan Sharing Economy

Peer-to-Peer (P2P), adalah sebuah teknik yang dikembangkan oleh para pengembang software (programmer) untuk memudahkan dan memurahkan (menggratiskan!) proses berbagi file, baik itu file lagu (musik), games, film dan file-file lainnya. Sebelum adanya teknologi Peer-to-peer, jika si A yang ingin men-download (memiliki) file lagu, games atau film milik si B, maka dia harus men-download dari satu atau lebih server yang menyimpan file lagu tersebut (si B, harus terlebih dahulu menyimpan file musiknya nya di server perantara tersebut). Pemilik server yang menyediakan layanan tersebut (katakanlah si P) , menjadi perantara antara pemilik produk (si B) dan si A yang ingin memiliki (membeli) produk tersebut. Dengan teknologi peer-to-peer, si A dapat langsung men-download file musik langsung dari (komputer) si B; tidak lagi melalui perantara (tidak melalui P).

Sekilas, ini adalah sesuatu yang tampak sederhana. Tapi, teknologi ini, mempunyai dampak ekonomi yang luar biasa. Contoh di atas: penyedia server ℗ mempunyai kekuasaan pengendalian yang besar, dan bisa mengambil manfaat dari kedua belah pihak (A dan B). A dan B, harus membayar untuk penyedia server. Dengan adanya teknologi peer-to-peer, si P, penyedia server, tidak lagi mempunyai kendali dan tidak mendapat uang sepeser pun dari transaksi yang terjadi antara si A dan si B. Dan, ini tidak berhenti sampai disini. Jika si A sudah memiliki file lagu si B, maka, dengan teknologi peer-to-peer saat itu, tidak ada yang bisa menghalangi si A untuk membagi file tersebut ke si C, D, E, F, dan ribuan atau jutaan orang lain, tanpa sepengetahuan si B. Dalam kasus ini, jika file tersebut adalah file yang ber-nilai ekonomis, maka si B kehilangan benefit dari proses pen-distribusian file yang dilakukan oleh si A.

Tentu saja, ini menimbulkan kehebohan. Industri yang yang langsung terkena dampak adalah industri pembuat produk-produk yang dijual atau bisa di didistribusikan dalam bentuk digital, misalnya: musik, film, game, buku, software-software aplikasi…. Berbagai upaya dilakukan agar praktek semacam ini dihentikan, dilarang. Pihak-pihak yang mem-fasilitasi agar layanan ini bisa berlangsung, menjadi sasaran tembak, meskipun pihak fasilitator tersebut tidak memungut biaya. Dengan alasan pelanggaran hak cipta, berbagai lembaga dan perusahaan yang mem-fasilitasi layanan peer-to-peer ini di tuntut dan ditutup. Para pendirinya ditangkap, dipenjarakan dan harta nya disita.

Kembali, kapitalis berhasil mengendalikan situasi. Mengembalikan kembali kontrol ke tangan mereka.

Peer-To-Peer & Blockchain

Peperangan belum usai. Kaum netizen, kaum programmer seluruh dunia, tidak mau menyerah. Salah satu kelemahan utama dari peer-to-peer di versi awal, adalah masih adanya ketergantungan pada layanan server ter-pusat untuk hal-hal tertentu, misalnya untuk mengelola index (daftar) user dan daftar file yang di-share –meskipun, file / resources nya sendiri, tidak disimpan di server terpusat tersebut–. Tapi, kondisi ini rentan untuk menjadi sasaran ‘serangan’ balik para kaum kapitalis yang tidak rela, jika peran mereka sebagai pengendali, ter-gerogoti, ter-disrupsi. Layanan peer-to-peer bisa dengan mudah dilumpuhkan dengan men-shutdown server penyedia ‘layanan koordinatif’ tersebut. Harus dibangun sistem, sehingga, ‘transaksi’ antar user bisa terjadi tanpa melibatkan sama sekali pihak perantara. Juga harus dibangun suatu model, sehingga data apapun, harus ter-distribusi di berbagai tempat, di sejumlah lokasi, bahkan, tanpa ada batasan jumlah lokasi sama sekali. Jadi, tidak ada lagi pusat data. Satu set informasi yang di buat oleh si A dan si C, harus tersebar luas, terdistribusi dan tersimpan di sebanyak mungkin tempat, dengan tingkat proteksi maksimum, sehingga hampir tidak mungkin terjadi ada upaya-upaya untuk menyabotase atau mengubah data atau menguasai data. Blockchain adalah jawabannya.

Blockchain adalah suatu teknologi yang memungkinkan satu blok informasi untuk disimpan secara terdistribusi di sebanyak mungkin lokasi (komputer) dan dengan teknik enkripsi (di-acak, di-sandi), sehingga, tidak memungkinkan adanya:

  • Penguasaan terhadap data (tidak ada data terpusat
  • Manipulasi terhadap data.

Karena tidak ada pusat data, maka, tidak ada lagi PERANTARA. Tidak ada lagi celah bagi kapitalis, sebesar dan sehebat apapun kekuatan modalnya, untuk bisa mengambil peran menjadi pengendali. Siapapun, tanpa syarat, bisa berpartisipasi menjadi bagian dari jaringan distribusi data.

Karena data ter-distribusi secara massive, tersebar di sekian banyak lokasi, maka, akan sulit bagi siapapun untuk melakukan manipulasi data. Secara teori, manipulasi data hanya bisa dilakukan jika 50%+1 pengguna, bersepakat untuk melakukan manipulasi data. Sesuatu hal yang tidak mungkin, apalagi di dunia netizen.

Peer-to-Peer, Blockchain, Bitcoin

Salah satu implementasi yang paling terkenal dan menghebohkan dari konsep teknologi ini adalah bitcoin. Mata uang digital, yang bisa digunakan oleh siapa saja, tanpa perantara, tanpa ada otoritas yang mengatur. Para pemilik bitcoin, bisa transaksi antara mereka, tanpa melibatkan lembaga perantara manapun. Tidak ter-ikat kepada aturan lembaga manapun. Aturan yang diikuti adalah: algoritma matematika!. Tidak ada yang bisa mengendalikan nilai tukar. Tidak ada yang bisa mencetak uang semau-maunya. Semuanya dikendalikan dan tunduk pada hukum matematika, yang merupakan satu-satunya ilmu pasti, dan dengan rumusan dan algoritma yang terbuka, transparan untuk di uji oleh siapa saja.

Kali ini, kaum kapitalis menghadapi lawan tangguh. Para netizen, para programmer, telah mempersiapkan diri lebih baik. Sebesar dan sekuat apapun kaum kapitalis, negara ataupun perusahaan-perusahaan global dengan dana tidak terbatas; tidak akan bisa mengatur dan mengendalikan. Akibatnya bisa ditebak: tidak ada satupun negara di dunia yang mengakui, me-legalisasi bitcoin.

Satu catatan untuk para pencinta misteri dan teori konspirasi: Bitcoin pertama kali di publikasi tahun 2009, oleh seseorang yang bernama Satoshi Nakamoto. Tahun 2010, Satoshi Nakamoto menghilang, dalam arti sebenarnya, menghilang tanpa jejak, kecuali hasil kerjanya yang sekarang tersebar luas dan menjadi milik public.

Peer-to-Peer Economy

Peer-to-Peer Economy, mengacu kepada pembahasan di atas, adalah suatu model ekonomi, model transaksi ter-desentralisasi, dimana dua pihak yang ber-terlibat, penjual dan pembeli, ber-interaksi langsung dalam transaksi jual beli, tanpa melibatkan pihak perantara. Praktek yang sebenarnya sangat umum, dan sebagaimana sharing economy (ekonomi berbagi), sebenarnya sudah menyertai manusia, sejak manusia berjual beli.

P2P ekonomi, pada hakekatnya adalah praktek ekonomi paling dasar dan alamiah. Namun demikian, dalam perjalanannya, ketika nilai dan jangkuan transaksi yang semakin luas dan besar, mulai muncul pihak ketiga, pihak perantara. Sesuatu yang alamiah juga. Akan tetapi, yang selanjutnya terjadi, adalah penguasaan peran perantara yang menjadi besar dan terlalu besar, sehingga menjadi pengendali yang pada akhirnya, cenderung menjadi penguasaan. Dan, power-tend-to-corrupt. Power tend to evil.

Tidak semua perantara adalah jahat, buruk. Yang jahat dan buruk adalah ketika peran perantara menjadi terlalu besar dan ter-sentralisasi di beberapa titik kekuasaan (para kapitalis, para penguasa) sehingga perannya menjadi kabur: pemain sekaligus juga sebagai wasit.

Wisdom of The Crowd vs Wisdom of The Crown

Mimpi kita adalah, bagaimana kita membangun suatu platform ekonomi peer-to-peer, platform marketplace peer-to-peer ekonomi, dimana penguasaan platform tidak di pegang dan di kendalikan oleh satu dua pihak. Pemegang kendali adalah para pelaku ekonomi secara keseluruhan, para individu sebagai keseluruhan, crowd. Kebijakan, norma, standar, kendali, pengendalian ditentukan oleh massa, kerumunan para pelaku. Wisdom of The Crowd. Bukan Wisdom of The Crown.

Leave a Comment